Previous
Next
  • Home
  • »
  • Laporan
  • » Orang Cerdas Belum Tentu Bahagia, Ini Buktinya

Laporan

Orang Cerdas Belum Tentu Bahagia, Ini Buktinya

 

Orang yang cerdas tampaknya sangat mengesankan karena mereka bias memiliki nilai akademik yang cempurna, atau melakukan sesuatu dengan baik sesuai dengan minat mereka. Sebaliknya, menurut ilmu sains, orang yang cerdas cenderung lebih kompleks karena tidak hanya aspek positifnya yang terlihat, kita tidak menyadari bahwa mereka memiliki sisi negatifnya.

Ada beberapa aspek negatif berikut menunjukkan Anda seorang yang cerdas, sehingga tidak perlu merasa rendah diri. Simak sisi buruk dibalik orang cerdas berikut ini:

Mereka tidak bahagia

Umuymnya, orang yang cerdas dianggap cepat mencapai kesuksesan baik hal karier maupun finansial sehingga membuat mereka bahagia. Sebaliknya, orang yang cerdas ternyata tidak bahagia, seperti dinyatakan oleh Raj Gunathan dalam bukunya, “if you’re so smart, whay aren’t you happy?”.

Hal ini ternyata diakibatkan oleh apa yang membuat kita sukses cenderung bertentangan dengan kebahagiaan. Orang yang cerdas akan memiliki lebihan dalam analisis sehingga membaut ia berpikir ‘berat’ dan rentan terhadap stress.

Mereka mengidap penyakit mental

Penyakit mental dan kecerdasan ternyata memiliki hubungan yang unik menurut penelitian ilmuah. Gejala bipolarisme yang dialami 2,4 persen populasi dunia, seperti Vincent van Gogh, Emily Dickinson adalah contoh pengidap bipolar yang merupakan seniman cerdas. Selain bipolar ada juga orang cerdas yang mengidap schizophrenia, dan gangguan mental lain.

Sebuah studi menyatakan bahwa adanya protein spesifik di dalam otak yang menangani memori dan rasa ingin tahu berhubungan dengan bipolar disorder. Penelitian lain juga mengungkapkan ketika seseorang menyelesaikan soal matematika dan daya tangkap informasi dengan cepat memburuk risiko ia mengalami mania.

Mereka suka berkata kotor

Menurut penelitian ilmiah, umpatan di dalam percakapan sehari-hari kerap digunakan oleh orang yang cerdas, artinya ia lebih luwes di dalam menyampaikan pendapat dan memiliki perbendaharaan kata yang cukup banyak di dalam otaknya.

Di dalam buku “What The F: What Swearing Reveals About Our Language, Our Brains, and Ourselves” yang ditulis oleh Benjamin Bergen, dari UC San Diego AS, banyak orang salah kaprah mengansumsikan mengumpat. Semakin banyak orang berhubungan dengan pendidikan tinggi dan rajin membaca literature semakin banyak ia memiliki perbendaraan kata. Selain itu, ia akan semakin percaya diri menggunakan kata-kata umpatan di dalam berkomunikasi.

Menurut Kristin dan Timoty Jay, psikolog AS juga menyimpulkan di dalam penelitian mereka, mengumpat ternyata berhubungan positif dengan kemampuan komunikasi verbal, artinya seseorang akan lebih ekspresif dalam menggunakan bahasa sesuai konteksnya.

(adeg/Carapedia)
Tambahkan komentar baru
Komentar Sebelumnya (0)
Belum ada komentar untuk produk ini.