Previous
Next

Sejarah

Perjalanan Tren Kopi di Indonesia

 

Mulai dari warung kopi hingga coffeeshop mungkin sudah menjadi tren di Indonesia yang notabene juga penikmati kopi. Di Indonesia sendiri juga mengalami perkembangan kopi mulai dari jenis hingga cara pengolahannya.

Kopi-kopi di Indonesia banyak dihasilkan dari daerah Sumatera, Jawa dan Bali baik itu jenis jenis arabika dan jenis robusta. Kopi arabika juga memiliki banyak ragam seperti Mandheling, Gayo, Lintong, Takengon, Sidikalang, Bali Kintamani, Java Prwanger, Kalosi Toraja, Papua Wamena dan Flores Bajawa. Untuk kopi robusta terdiri dari Wash Java (WIB) dan Flores Manggarai.

Kualitas kopi di Indonesia juga beragam dari ujung Utara ke Timur. Untuk tanaman kopi unggul banyak ditemukan di Aceh, Jambi, Lampung dan Papua.

Bagaimana dengan konsumsi kopinya? Hampir setiap tahun konsumsi kopi di Indonesia mengalami kenaikan sekitar 5 hingga 6 persen. Seiring dengan itu produksinya juga meningkat sekitar 1 hingga 2 persen.

Dengan banyaknya sumber daya alam kopi di Indonesia ini sangat disayangkan jika Indonesia hanya mampu memproduksi kopi jenis robusta sekitar 1-1,2 ton. Jumlah ini lebih sedikit daripada Vietnam yang mampu memproduksi 2,8-3,2 ton. Jenis kopi arabia, Indonesia hanya memproduksi 600-800 kg sedangkan Brazil mampu mencapai 1,8 ton per tahun.

Jumlah produksi yang sedikit ini disebabkan oleh mutu kopi yang dihasilkan oleh petani tidak stabil. Ketidakstabilan ini disebabkan juga oleh faktor proses penanaman kopi, kadar air dan pengeringan. Tak hanya itu, petani kopi Indonesia masih kurang pengetahuan akan kopi dan budi dayanya. Hal ini menjadikan pengusaha kopi harus melatih petani agar pengetahuannya bertambah.

Para pengusaha menghasilkan kopi bermutu tinggi dengan mencampurkan kopi arabika dengan sedikit robusta. Campuran ini akan menciptakan warna kopi yang barus.

Moelyono, seorang ahli kopi membagi tiga konsumsi waktu dalam tiga waktu, yaitu:

1. Sebelum tahun 2000

Sebelum abad millennium, tren minum kopi sudah berkembang. Namun pada waktu itu kopi bubuk masih dicampur dengan jagung sehingga kala itu pencampuran dinamakan JITU atau siji pitu. Artinya, satu biji kopi dicampurkan ke dalam tujuh bagian jagung. Rasanya waktu itu belum benar-benar citarasa kopi asli.

2. Antara tahun 2000 – 2010

Harga kopi dan jagung mengalami penurunan. Beberapa pabrik kopi mengubah komposisi produknya. Mereka menggunakan bahan 100 persen kopi tanpa campuran apapun. Dampaknya sangat bagus sebab rasa kopi pada produk yang dijual di pasaran lebih kuat.

3. Tahun 2010 – sekarang

Tidak hanya kopi robusta dan arabika namun sekarang mulai muncul kopi luwak. Jenis produk yang paling populer adalah kopi putih luwak. Banyak coffee shop yang juga memperkenakna kopi spesial. Selain itu itu mulai populer kebiasaan minuman kopi yang ready to drink (kopi kemasan( yang dibawa dari tren Jepang.

Kegemaran minum kopi di Indonesia saat ini sudah mengalami peningkatan. Di kalangan muda tidak hanyaa menikmati hasil racikan kopinya saja, namun mereka juga mulai belajar mengenal dan meracik kopi.


 

(adeg/Carapedia)
Tambahkan komentar baru
Komentar Sebelumnya (0)
Belum ada komentar untuk produk ini.