Previous
Next
  • Home
  • »
  • Daerah
  • » Upacara Adat Turun Tanah di Aceh

Daerah

Upacara Adat Turun Tanah di Aceh

Hidup manusia berproses sejak dan lahir sebagai bayi, berjalan, dewasa, menikah, menjadi tua dan akhirnya meninggal. Alangkah bahagianya bila pada setiap proses hidup itu selalu didahului atau direstui dengan suatu keberkatan. Hal ini di Indonesia telah menjadi suatu tradisi, tak terkecuali di Daerah Aceh.

Di daerah ini ada suatu upacara yang dikenal dengan "Peutron Aneuk U Tanoh" atau turun tanah. Artinya, orang tua menurunkan bayi ke tanah. Hal ini dilakukan sewaktu bayi genap berusia 44 hari. Menjelang sang bayi berumur 44 hari itu, sang ibu harus pula melakukan berbagai pantangan. Hal ini dimaksudkan, agar si bayi dapat tumbuh sehat dan baik.

Upacara "Turun Tanah" ini dipimpin oleh seorang Ketua Adat dengan menggendong si bayi menuju tangga rumah. Sambil mengucapkan doa-doa dari ayat suci Al-Quran, Ketua Adat menuruni tangga rumah dengan sang bayi tetap dalam gendongannya.

Keluarga mengharapkan agar dengan doa-doa tersebut sang bayi dalam perjalanan hidupnya selalu mendapatkan keselamatan dan lindungan dari Allah. Setelah sampai di tanah, upacara dilanjutkan dengan mencincang batang pisang atau pohon keladi yang telah disediakan. Hal ini mengibaratkan suatu keperkasaan dan dimaksudkan agar si bayi kelak dikaruniai sifat-sifat perkasa dan kesatria.

Ketua Adat melanjutkan acara dengan membawa masuk kembali sang bayi ke dalam nimah. Di dalam rumah ia mendapat salam sejahtera dari seluruh keluarga dan para hadirin. Upacara im dimeriahkan pula dengan permainan rebana, tari-tarian, pencak silat, dan permainan kesenian lainnya. Berbagai hidangan lezat seperti nasi dan lauk pauknya, dan kue-kue ikut memeriahkan upacara ini.

Masyarakat Aceh sangat terkenal dengan ketaatan mereka kepada agama Islam, sehingga hidup berbudaya mereka banyak pula dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam.

Keluarga mengharapkan agar dengan doa-doa tersebut sang bayi dalam perjalanan hidupnya selalu mendapatkan keselamatan dan lindungan dari Allah. Setelah sampai di tanah, upacara dilanjutkan dengan mencincang batang pisang atau pohon keladi yang telah disediakan. Hal ini mengibaratkan suatu keperkasaan dan dimaksudkan agar si bayi kelak dikaruniai sifat-sifat perkasa dan kesatria.

Ketua Adat melanjutkan acara dengan membawa masuk kembali sang bayi ke dalam nimah. Di dalam rumah ia mendapat salam sejahtera dari seluruh keluarga dan para hadirin. Upacara im dimeriahkan pula dengan permainan rebana, tari-tarian, pencak silat, dan permainan kesenian lainnya. Berbagai hidangan lezat seperti nasi dan lauk pauknya, dan kue-kue ikut memeriahkan upacara ini.

Masyarakat Aceh sangat terkenal dengan ketaatan mereka kepada agama Islam, sehingga hidup berbudaya mereka banyak pula dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam.

(ogi/Carapedia)
Pencarian Terbaru

Upacara adat aceh. Tradisi islam di aceh. Tarian adat aceh. Upacara adat islam. Upacara adat di aceh. Nama upacara adat aceh. Tradisi daerah aceh.

Upacara adat daerah aceh. Upacara turun tanah aceh. Upacara adat aceh turun tanah. Upacara turun tanah di aceh. Upacara adat. Contoh undangan turun tanah. Upacara adat turun tanah.

Upacara turun tanah adat aceh. Upacara adat turun tanah di aceh. Upacara adat agama islam. Nama upacara adat di aceh. Turun tanah adat aceh. Tradisi turun tanah di aceh.

Tambahkan komentar baru
Komentar Sebelumnya (0)
Belum ada komentar untuk produk ini.